UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Contoh RKH Tema Alat Komunikasi


RENCANA KEGIATAN HARIAN
Kelompok                  : B2
Semester/ Minggu     : II
Tema/ Sub Tema         : Alat Komunikasi/ Macam-macam alat komunikasi
Hari, Tanggal              : Rabu, 17 Mei  2013
Waktu                          : 07.00-09.30 WIB
INDIKATOR
PENDIDIKAN KARAKTER
KEGIATAN PEMBELAJARAN
ALAT/ SUMBER BELAJAR
PENILAIAN PERKEMBANGAN PESERTA
Alat
Hasil
Berbaris di depan kelas
Kecintaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
I. KEGIATAN AWAL ± 30 MENIT
-    Berdo’a dan Salam
-    Mengekspresikan berbagai gerakan kepala, tangan atau kaki sesuai dengan irama musik/ritmik dengan lentur. (F. 10)
Kerja keras
-    Demonstrasi
-    Senam dengan ritmik terpimpin.
-   Speaker, Mp4
Unjuk kerja
-    Menghubungkan gambar/benda dengan kata (B. 29)
Kerja keras
II.   KEGIATAN INTI ± 60 MENIT
Area Bahasa
-    Pemberian tugas, menghubungkan gambar dengan kata. “Alat Komunikasi”
-   LKA, pensil
Penugasan
-   Mengelompokkan benda dengan berbagai cara menurut ciri-ciri tertentu. Misal: menurut warna, bentuk, ukuran. (K. 23)
Kerja keras
Area Matematika
-    Pemberian tugas, mengelompokkan gambar HP menurut warna
-   Gambar HP warna-warni, kertas, lem
Penugasan
INDIKATOR
PENDIDIKAN KARAKTER
KEGIATAN PEMBELAJARAN
ALAT/ SUMBER BELAJAR
PENILAIAN PERKEMBANGAN PESERTA
Alat
Hasil
-   Membuat gambar dengan teknik kolase dengan memakai berbagai media (kertas, ampas kelapa, biji-bijian, kain perca, batu-batuan, dll). (F. 48)
Kreatif
Area Seni
-    Pemberian tugas, membuat gambar dengan teknik kolase dari kulit telur.
-   Kertas, kulit telur, lem
Hasil karya
-    Memelihara kebersihan lingkungan, misal: tidak mencorat-coret tembok, membuang sampah pada tempatnya, dll (N. 26)
Area Drama
-    Demonstrasi
-    Melakukan kerja bakti
-   Loker masing-masing
Unjuk kerja
-    Mentaati aturan permainan (SE. 16)
Disiplin
III.   ISTIRAHAT ± 30 MENIT
-  Bermain
-  Cuci tangan, doa, makan
-  Alat permainan
-  Air, sabun, lap tangan, makanan dan minuman.
Observasi
-    Mendengarkan dan memperhatikan teman berbicara. (N. 16)
Toleransi
IV.     KEGIATAN AKHIR ± 30 MENIT
-  Bercerita tentang alat komunikasi
-  Gambar
Unjuk kerja
-   Menggunakan dan dapat menjawab pertanyaan apa, mengapa, dimana, berapa, bagaimana, dsb. (B. 7)
Berbahasa
-  Bercakap-cakap kegunaan HP
-  HP
Unjuk kerja
Kecintaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
-  Berdoa sesudah kegiatan











TEMA UNTUK PAUD & TK

Disini akan aq tuliskan tema yang aq gunakan dalam kegiatan belajar mengajar di PAUD pada bidang pengembangan usia TK…

SEMESTER 1
  1. Diri Sendiri (3minggu). Sub tema : identitasku, anggota tubuh, panca indra
  2. Lingkunganku (4minggu). Sub tema : rumahku, bagian rumahku, sekolahku
  3. Kebutuhanku (4minggu). Sub tema : makanan/minuman,pakaian, kebersihan
  4. Binatang (3minggu). Sub tema : jenis binatang, cara hidup binatang, ciri binatang
  5. Tanaman (3minggu). Sub tema : macam tanaman, cara menanam dan merawat tanaman, bagian tanaman
SEMESTER 2
  1. Rekreasi (4minggu). Sub-tema : kendaraan di darat, kendaraan di udara, kendaraan di laut
  2. Pekerjaan (3minggu). Sub tema : pekerjaan orang tuaku, pekerjaan di lingkungan rumahku, pekerjaan di kotaku
  3. Air Udara Api (2minggu). Sub tema : air, udara dan api
  4. Alat Komunikasi (2minggu). Sub tema : alat komunikasi elektronik, alat komunikasi non elektronik
  5. Tanah Air (2minggu). Sub tema : kota tempat tinggaku, makanan khas kotaku
  6. Alam Semesta (3minggu). Sub tema : benda langit, musim di Indonesia, gejala alam 

Gaya Belajar Siswa Menurut David Kolb

Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses mengisyaratkan bahwa dalam proses pembelajaran, seorang guru seyogyanya dapat memperhatikan karakteristik siswanya. Karakteristiktik siswa sesungguhnya memiliki cakupan yang luas. Salah satu karakteristik siswa yang perlu diperhatikan guru dan akan mewarnai  terhadap efektivitas belajar dan pembelajaran yaitu berkenaan dengan gaya belajar siswa.
Secara sederhana, gaya belajar siswaatau student learning style dapat diartikan sebagai karakteristik kognitif, afektif, dan perilaku psikologis seorang siswa tentang bagaimana dia memahami sesuatu, berinteraksi dan merespons lingkungan belajarnya, yang bersifat  unik dan relatif stabil.

Gaya Belajar Kolb
Dalam berbagai literatur tentang belajar dan pembelajaran, kita akan menjumpai sejumlah konsep tentang gaya belajar siswa, dan salah satunya adalah gaya belajar sebagaimana dikemukakan oleh David Kolb, salah seorang ahli pendidikan dari Amerika Serikat, yang mempopulerkan teori belajar “Experiential Learning” .
Kolb mengklasifikasikan Gaya Belajar Siswa ke dalam empat  kecenderungan utama yaitu:
  1. Concrete Experience (CE). Siswa  belajar melalui perasaan (feeling), dengan menekankan segi-segi pengalaman kongkret,  lebih mementingkan relasi dengan sesama dan sensitivitas terhadap perasaan orang lain.  Siswa melibatkan diri sepenuhnya melalui pengalaman baru,  siswa  cenderung lebih terbuka dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang dihadapinya.
  2. Abstract Conceptualization (AC). Siswa belajar melalui pemikiran (thinking) dan lebih terfokus pada analisis logis dari ide-ide, perencanaan sistematis, dan pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang dihadapi. Siswa menciptakan konsep-konsep yang mengintegrasikan observasinya menjadi teori yang sehat, dengan mengandalkan pada perencanaan yang sistematis.
  3. Reflective Observation (RO). Siswa belajar melalui pengamatan (watching), penekanannya mengamati sebelum menilai, menyimak suatu perkara dari berbagai perspektif, dan selalu menyimak makna dari hal-hal yang diamati. Siswa akan menggunakan pikiran dan perasaannya untuk membentuk opini/pendapat, siswa mengobservasi dan  merefleksi pengalamannya dari berbagai segi.
  4. Active Experimentation (AE). Siswa belajar melalui tindakan (doing), cenderung kuat dalam segi kemampuan melaksanakan tugas, berani mengambil resiko, dan mempengaruhi orang lain lewat perbuatannya. Siswa akan menghargai keberhasilannya dalam menyelesaikan pekerjaan, pengaruhnya pada orang lain, dan prestasinya. Siswa menggunakan teori untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan .
Selanjutnya Kolb mengemukakan, bahwa setiap individu  tidak didominasi oleh satu gaya belajar tertentu secara absolut, tetapi cenderung membentuk  kombinasi dan konfigurasi gaya belajar tertentu,  yang diklasifikasikannya ke dalam 4 (empat)  tipe:
Tipe Belajar Kolb
Tipe 1. Diverger.
Tipe ini perpaduan antara Concrete Experience (CE) dan  Reflective Observation (RO), atau dengan kata lain kombinasi dari perasaan (feeling) dan pengamatan (watching). Siswa dengan tipe Diverger memiliki keunggulan dalam kemampuan imajinasi dan melihat situasi kongkret dari banyak sudut pandang yang berbeda, kemudian menghubungkannya menjadi sesuatu yang bulat dan utuh. Pendekatannya pada setiap situasi adalah “mengamati” dan bukan “bertindak”.  Siswa seperti ini menyukai tugas belajar yang menuntutnya untuk menghasilkan ide-ide  dan gemar mengumpulkan berbagai informasi, menyukai isu tentang kesusastraan, budaya, sejarah, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Mereka biasanya lebih banyak bertanya “Why?”. Peran dan fungsi  guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai Motivator.
Tipe 2. Assimilator.
Tipe kedua ini  perpaduan antara Abstract Conceptualization (AC)  dan  Reflective Observation (RO) atau dengan kata lain kombinasi dari pemikiran  (thinking) dan pengamatan (watching). Siswa dengan tipe Assimilator memiliki keunggulan dalam memahami dan merespons berbagai sajian informasi serta mengorganisasikan merangkumkannya dalam suatu format yang logis, singkat, dan jelas.  Biasanya siswa  tipe ini cenderung lebih teoritis, lebih menyukai bekerja dengan ide serta konsep yang abstrak,  daripada bekerja dengan orang.   Mata pelajaran yang yang diminatinya adalah bidang sains dan matematika.  Mereka biasanya lebih banyak bertanya “What?”.  Peran dan fungsi guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai seorang Expert.
Tipe 3. Converger.
Tipe ini  perpaduan antara Abstract Conceptualization (AC)  dan  Reflective Observation (RO) atau dengan kata lain kombinasi dari berfikir (thinking) dan berbuat (doing). Siswa mampu merespons terhadap berbagai peluang  dan mampu bekerja  secara aktif dalam setiap tugas yang terdefinisikan secara baik. Siswa  gemar  belajar bila menghadapi soal dengan jawaban yang pasti, dan  segera berusaha mencari jawaban yang tepat.  Dia mau belajar secara trial and error hanya dalam lingkungan yang dianggapnya relatif aman dari kegagalan.
Siswa dengan tipe Converger unggul dalam menemukan fungsi praktis dari berbagai ide dan teori. Biasanya mereka punya kemampuan yang baik dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Mereka juga cenderung lebih menyukai tugas-tugas teknis (aplikatif). Dia cenderung tidak emosional dan lebih menyukai bekerja yang berhubungan dengan benda dari pada manusia, masalah sosial atau hubungan antar pribadi.
Mata pelajaran yang yang diminati adalah bidang IPA dan teknik. Mereka biasanya lebih banyak bertanya “How?”.  Peran dan fungsi guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai seorang Coach,  yang dapat menyediakan praktik terbimbing  dan dapat memberikan umpan balik yang tepat.
Tipe 4. Accomodator
Tipe ini  perpaduan antara Concrete Experience (CE) dan  Active Experimentation (AE)  atau dengan kata lain kombinasi antara  merasakan   (feeling) dengan berbuat (doing). Siswa tipe ini senang mengaplikasikan materi pelajaran dalam berbagai situasi baru untuk memecahkan berbagai masalah nyata yang dihadapinya. Kelebihan siswa tipe ini memiliki kemampuan belajar yang baik dari hasil pengalaman nyata yang dilakukannya sendiri. Mereka suka membuat rencana dan melibatkan dirinya dalam berbagai pengalaman baru yang menantang. Dalam usaha memecahkan masalah, mereka biasanya mempertimbangkan faktor manusia (untuk mendapatkan masukan/informasi) dibanding analisa teknis. Mereka cenderung untuk bertindak berdasarkan intuisi/dorongan hati daripada berdasarkan analisa logis, sering  menggunakan trial and error dalam memecahkan masalah, kurang sabar dan ingin segera bertindak. Bila ada teori yang tidak sesuai dengan fakta cenderung untuk mengabaikannya. Mata pelajaran yang disukainya yaitu berkaitan dengan lapangan usaha (bisnis) dan teknik.
Mereka biasanya lebih banyak bertanya “What if?”.  Peran dan fungsi guru dalam berhadapan dengan siswa tipe ini  adalah berusaha menghadapkan siswa pada “open-ended questions”, memaksimalkan kesempatan siswa untuk mempelajari dan menggali  sesuatu  sesuai pilihannya. Penggunaan Metode Problem-Based Learning  tampaknya sangat cocok  untuk siswa tipe yang keempat ini.

STANDAR SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan , buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidika, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat ibadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, misalnya pengembangan kurikulum nasional dan lokal, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, pengadaan buku dan alat pelajaran, pengadaan dan perbaikan Sarana dan Prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukan peningkatan yang berarti. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, menunjukan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, namun sebagian lainnya masih memprihatinkan. 



BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan
Sarana adalah perlengkapan pembelajaran yang dapat dipindah-pindah.

Standar sarana adalah sarana yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk di dalamnya buku-buku Panduan Belajar, penggunaan teknologi informasi /komunikasi, dll.

Standar sarana dan prasarana adalah Standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perputakaan, laboratorium,bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berrekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembeljaran termasuk penggunaan tehnologi informasi dan komonikasi.

Ada lima faktor penting yang harus ada pada proses belajar mengajar yaitu: guru, murid, tujuan, materi dan waktu. Ketidak adaan salah satu faktor saja dari faktor tersebut, maka tidak mungkin terjadi proses belajar mengajar. Dengan 5 faktor tersebut, proses belajar mengajar dapat dilaksanakan walaupun kadang-kadang dengan hasil yang minimal pula. Hasil tersebut dapat ditingkatkan apabila ada sarana penunjang, yaitu faktor fasilitas/Sarana dan Prasarana Pendidikan.

“Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan; alat; media”.1 Menurut E. Mulyasa, “Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar, mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran”.

Sarana pendidikan merupakan sarana penunjang bagi proses belajar-mengajar. Menurut Tim Penyusun Pedoman Pembakuan Media Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dimaksud dengan: “Sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar-mengajar, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien”.3

Jadi, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang secara langsung dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efesien.

Sedangkan pengertian prasarana secara etimologis (arti kata) prasarana berarti alat tidak langsung untuk mencapai tujuan. Dalam pendidikan misalnya : lokasi/tempat, bangunan sekolah, lapangan olah raga, uang dan sebagainya. Sedang sarana seperti alat langsung untuk mencapai tujuan pendidikan, misalnya : ruang, buku, perpustakaan, laboratorium dan sebagainya.4

Sedangkan menurut Ibrahim Bafadal bahwa “prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah”.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran, seperti halaman, kebun, taman sekolah, jalan menuju sekolah, tetapi dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengajar, seperti taman sekolah untuk pengajaran biologi, halaman sekolah sebagai sekaligus lapangan olah raga, komponen tersebut merupakan sarana pendidikan.

2. Jenis-jenis Sarana dan Prasarana Pendidikan
Fasilitas atau benda-benda pendidikan dapat ditinjau dari fungsi, jenis atau sifatnya, yaitu:
1. Ditinjau dari fungsinya terhadap PBM, prasarana pendidikan berfungsi tidak langsung (kehadirannya tidak sangat menentukan). Sedangkan sarana pendidikan berfungsi langsung (kehadirannya sangat menentukan) terhadap PBM.
2. Ditinjau dari jenisnya, fasilitas pendidikan dapat dibedakan menjadi fasilitas fisik dan fasilitas nonfisik.
3. Ditinjau dari sifat barangnya, benda-benda pendidikan dapat dibedakan menjadi barang bergerak dan barang tidak bergerak, yang kesemuanya dapat mendukung pelaksanaan tugas.


3. Macam-macam Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan
Adapun macam-macam Sarana dan Prasarana yang di perlukan di sekolah demi kelancaran dan keberhasilan kegiatan proses pendidikan sekolah adalah :
a. Ruang kelas: tempat siswa dan guru melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar.
b. Ruang perpustakaan: tempat koleksi berbagai jenis bacaan bagi siswa dan dari sinilah siswa dapat menambah pengetahuan.
c. Ruang laboratorium ( tempat praktek) : tempat siswa mengembangkan pengetahuan sikap dan keterampilan serta tempat meneliti dengan menggunakan media yang ada untuk memecahkan suatu masalah atau konsep pengetahuan .
d. Ruang keterampilan adalah tempat siswa melaksanakan latihan mengenai keterampilan tertentu.
e. Ruang kesenian: adalah tempat berlangsungnya kegiatan-kegiatan seni
f. Fasilitas olah raga: tempat berlangsungnya latihan-latihan olahraga.

3. Pemeliharaan Sarana dan Prasarana
Untuk menyempurnakan pelaksanaan administrasi Sarana dan Prasarana para ahli menyarankan beberapa pedoman pelaksanaan administrasinya, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Kepala sekolah tidak terlalu menyibukkan diri secara langsung dengan urusan pelaksanaan administrasi Sarana dan Prasarana pengajaran.
b. Melakukan sistem pencatatan yang tepat sehingga mudah di kerjakan.
c. Senantiasa di tinjau dari segi pelayanan untuk turut memperlancar pelaksanaan program pengajaran.

Adapun masalah yang sering timbul dalam pemeliharaan Sarana dan Prasarana di sekolah adalah pengrusakan yang di lakukan oleh siswa –siswa di sekolah itu sendiri. Namun ada beberapa upaya yang bisa di lakukan dalam menangani masalah tersebut diantaranya adalah :
a. Membangkitkan rasa memiliki sekolah pada siswa –siswi
b. Sarana dan prasarana sekolah di siapkan yang prima sehingga tidak mudah di rusak
c. Membina siswa untuk disiplin dengan cara yang efektif dan di terima oleh semua siswa .
d. Memupuk rasa tanggung jawab kepada siswa untuk menjaga dan memelihara keutuhan dari sarana dan prasarana sekolah yang ada.

Koordinasi dalam mengelola dan memelihara sarana dan prasarana sekolah agar tetap prima adalah tugas utama dari administrator , oleh karena itu para petugas yang berhubungan dengan sarana dan prasarana sekolah bertanggung jawab langsung kepada kepala sekolah Adapun kebijaksanaan yang di perlukan dalam memelihara dan mengelola sarana dan prasarana sekolah adalah :
a. Membina hubungan kerja sama yang baik dengan petugas
b. Memimpin kerja sama dengan staf yang membantu petugas.
c. Memberikan pelatihan pada petugas untuk peningkatan kerjanya.
d. Mengawasi pembaharuan dan perbaikan sarana dan prasarana
e. Mengadakan inspeksi secara periodik dan teliti terhadap sarana dan prasarana.

3. Prinsip dan tata tertib.
Setiap sekolah memiliki prinsip-prinsip dan tata tertib mengenai penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, hal itu bertujuan untuk mempermudah administrator dalam mengawasi dan mengatur sarana dan prasarana yang ada di sekolah tersebut.

4. Hubungan Antara Sarana dan prasarana dengan Program Pengajaran
Jenis peralatan dan perlengkapan yang di sediakan di sekolah dan cara-cara pengadministrasiannya mempunyai pengaruh besar terhadap proses belajar mengajar. Persediaan yang kurang dan tidak memadai akan menghambat proses belajar mengajar , demikian pula administrasinya yang jelek akan mengurangi kegunaan alat-alat dan perlengkapan tersebut, sekalipun peralatan dan perlengkapan pengajaran itu keadaannya istimewa. Namun yang lebih penting dari itu semua adalah penyediaan sarana di sekolah di sesuaikan dengan kebutuhan anak didik serta kegunaan hasilnya di masa mendatang.

5. Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Pemeliharaan merupakan kegiatan penjagaan atau pencegahan dari kerusakan suatu barang, sehingga barang tersebut selalu dalam kondisi baik dan siap pakai. Pemeliharaan dilakukan secara continue terhadap semua barang-barang inventaris kadang-kadang dianggap sebagai suatu hal yang sepele, padahal pemeliharaan ini merupakan suatu tahap kerja yang tidak kalah pentingnya engan tahap-tahap yang lain dalam administrasi sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana yang sudah dibeli dengan harga mahal apabila tidak dipelihara maka tidak dapat dipergunakan.

Pemeliharaan dimulai dari pemakai barang, yaitu dengan berhati-hati dalam menggunakannya. Pemeliharaan yang bersifat khusus harus dilakukan oleh petugas professional yang mempunyai keahlian sesuai dengan jenis barang yang dimaksud.Pelaksanaan barang inventaris meliputi:
a. Perawatan
b. Pencegahan kerusakan
c. Penggantian ringan

Pemeliharaan berbeda dengan rehabilitasi, rehabilitasi adalah perbaikan berskala besar dan dilakukan pada waktu tertentu saja.



BAB III
KESIMPULAN

Sarana dan prasarana pendidikan adalah semua perangkat atau fasilitas atau perlengkapan dasar yang secara langsung dan tidak langsung dipergunakan untuk menunjang proses pendidikan dan demi tercapainya tujuan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang, meja kursi, alat-alat media pengajaran, ruang teori, ruang perpustakaan, ruang praktek keterampilan, serta ruang laboratorium dan sebagainya.

Masalah pemanfaatan sarana dan prasarana pendidikan merupakan factor yang penting terhadap proses belajar mengajar. Untuk itu fungsi dan peranan sekolah, guru, siswa dan personel sekolah memanfaatkan sarana dan prasarana pendidikan ini agar benar-benar menentukan keberhasilan proses belajar yang efektif.

Sedangkan motivasi belajar siswa adalah dorongan atau kemauan yang muncul dalam diri siswa untuk melakukan aktivitas belajarnya dengan giat sehingga mendapat kepuasan/ganjaran diakhir kegiatan belajarnya dan agar kualitas hasil belajar siswa juga memungkinkannya dapat diwujudkan serta tercapai tujuannya yaitu memiliki prestasi tinggi di sekolah, memiliki pengetahuan, keterampilan maupun pengalaman yang dapat dibanggakan.

Oleh karena itu dalam suatu proses belajar mengajar, sarana dan prasarana pendidikan harus ada. Tanpa adanya sarana dan prasarana pendidikan, suatu proses belajar mengajar tidak akan mencapai tujuan yang maksimal.

Dan dengan tersedianya sarana dan prasarana pendidikan secara langsung dan tidak langsung digunakan dalam proses belajar mengajar, maka guru harus dapat memanfaatkan segala sarana dan prasarana pendidikan yang ada dengan seoptimal mungkin da bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan pemakaian sarana dan prasarana pendidikan yang ada atau ditempatkan dikelas dimana ia mengajar.

Dengan demikian, jika pemanfaatan segala sarana dan prasarana pendidikan dilakukan dengan tepat dan seoptimal mungkin, maka siswa akan memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar dengan sungguh-sungguh sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien dan dapat menghasilkan prestasi belajar yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan



DAFTAR PUSTAKA

Soetjipto, Prof. Profesi Keguruan. Rineka Cipta. Jakarta. 2004
Http://Media.Diknas.Go.Id
Oteng, Sutisna. Administrasi Pendidikan. Penerbit Angkasa. Bandung. !985
Burhanuddin, Yusak. Administrasi Pendidikan. Pustaka Setia. Bandung. 2005
Yusak Burhanudin. Aministrasi Pendidikan. Bab III, Hlm 77.
Http://Media.Diknas.Go.Id
Sutisno, Oteng. Administrasi Pendidikan. Bab II. Hlm 33.
Ibid…. Hlm 53.
Prof. Soetjipto. Profesi Keguruan. Bab VII. Hlm 172.

SELF CONTROL

“Self control is a influence over, and regulation of ,his physical, behavioural, and psychological processes—in other word, the set of processes that constitute his self  (Calhoun & Accolella 1990)
Calhoun dan Acocella (1990)  mendefinisikan self control sebagai pengaturan proses-proses fisik, psikologis, dan perilaku seseorang dengan kata lain serangkaian proses yang membentuk dirinya sendiri.
Self control merupakan suatu kecakapan individu dalam kepekaan membaca situasi diri dan lingkungannya serta kemampuan untuk mengontrol dan mengelola faktor-faktor perilaku. Hal tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi untuk menampilkan diri dalam mengendalikan perilaku, kecenderungan untuk menarik perhatian, keinginan untuk mengubah perilaku. Hal tersebut dilakukan agar sesuai dengan tuntutan orang lain, menyenangkan orang lain, selalu konform dengan orang lain, menutup perasaannya.
            Liebert, poulos, dan Marmour (1979) menyatakan bahwa self control adalah tingkah laku dimana individu memonitor aksinya sendiri dalam cara tertentu pada situasi segera yang ada dan tidak ada tekanan. Goldfried dan Merbaum (dalam Lazarus, 1976), Mendefinisikan self control sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi positif. Self control juga menggambarkan keputusan individu yang melalui pertimbangan kognitif untuk menyatukan perilaku yang telah disusun untuk meningkatkan hasil dan tujuan tertentu seperti yang diinginkan (Lazarus, 1976).
            Dalam berinteraksi dengan orang lain, seseorang akan berusaha menampilkan perilaku yang dianggap paling tepat bagi dirinya yaitu perilaku yang dapat menyelamatkan interaksinya dari akibat negatif yang disebabkan karena respon yang dilakukannya. Self control diperlukan guna membantu individu dalam mengatasi kemampuanya yang terbatas dan membantu individu dalam mengatasi berbagai hal merugikan yang mungkin terjadi yang berasal dari luar.
            Calhoun dan Acocella (1990), mengemukakan dua alasan yang mengaruskan individu untuk mengontrol diri secara kontinyu. Pertama, Individu hidup bersama kelompok sehingga dalam memuaskan keinginannya individu harus mengontrol perilakunya agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain. Kedua, Masyarakat mendorong individu untuk secara konstan menyusun standar yang lebih baik bagi dirinya, sehingga dalam rangka memenuhi tuntutan tersebut dibuatkan pengontrolan diri agar dalam proses pencapaian standar tersebut individu tidak melakukan hal-hal yang menyimpang.
             Dalam self control individu sendiri yang menyusun standar bagi kinerjanya dan menghargai atau menghukum dirinya bila berhasil atau tidak berhasil mencapai standar tersebut. dalam kontrol eksternal orang lainlah yang menyusun standar dan memberi ganjaran atau hukum. Tidak mengherankan bila self control dianggap sebagai suatu ketrampilan berharga (Calhoun dan Acocella, 1990). 
            Berdasarkan penjelasan di atas, maka self control dapat diartikan sebagai suatu aktivitas pengendalian tingkah laku, pengendalian tingkah laku mengandung makna yaitu melakukan pertimbangan-pertimbangan terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu untuk bertindak. Semakin tinggi kontrol diri semakin intens pengendalian terhadap tingkah laku.
2.1.2  Perkembangan Self Control dalam Diri Individu
            Self control berkembang dalam system nilai personal yang ada pada diri individu (Liebert, Poulus, dan Marmour, 1979) dan perkembangan ini terjadi sejak masih bayi (Calhoun dan Acocella, 1990). Perkembangan  Self control dipengaruhi oleh perkembangan kognitif dan proses belajar dasar pada individu tersebut. Proses belajar dasar pada diri individu adalah :
1. Clasical learning (Respondent Conditioning)
            Pada classical learning, respon (CR) muncul didahului oleh stimulus netral (CS) setelah stimulus dipasangkan dengan Unconditioned Stimulus (US). Sejak bayi pada anak-anak belajar banyak sikap dan tingkah laku melalui classical learning, termasuk evaluasi positif dan negatif, rasa takut dan prasangka. Calhoun dan Acocella (1990) menyatakan bahwa respondent conditioning berfungsi untuk memperkuat self-control., melalui rantaian asosiasi, daftar mental kita mengenai sesuatu yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Hal ini memperluas respon emosi yang akan memanipulasi tingkah laku. Respondent conditioning akan melatih seseorang untuk menunda pemuasan.
2. Instrumental Learning (Operant Conditioning)
            Pada instrumental learning, konsekuensi dari perbuatan menentukan kemungkinan terjadinya tingkah laku tersebut dimasa yang akan datang. Calhoun dan Acocella (1990) menyatakan bahwa proses belajar operant conditioning memberikan penguatan dan pelemahan pada tingkah laku melalui konsekuensi yang diberikan. Melalui operant conditioning seseorang dapat belajar untuk mengontrol dan mengarahkan tingkah laku untuk mendapat konsekuensi yang menyenangkan atau untuk menghindari konsekuensi yang tidak menyenangkan.  Disebut sebagai reinforcer dan efeknya disebut reinforcement. Terdapt dua tipe dari reinforcer, yaitu :
  1. Primary reinforcer, stimuli yang menyenangkan atau tidak menyenangkan yang diperoleh seseorang tanpa proses belajar dan berwujud langsung, misalnya makan dan minum.
  2. Conditioned reinforcer, stimuli yang memberi seseorang nilai positif atau negative melalui asosiasi pada primary reinforcer atau melalui reinforcer yang telah diperoleh sebelumnya.
            Reinforcer berfungsi untuk menguatkan tingkah laku melalui dua tipe konsekuensi, yaitu:
  1. Positive reinforcement, pemberian stimulus yang menyenangkan
  2. Negative reinforcement, pemindahan stimulus yang tidak menyenangkan
            Selain reinforcement yang dapat menguatkan tingkah laku, terdapat pula reinforcer yang melemahkan tingkah laku , yaitu:
  1. Punishment, pemberian stimulus yang tidak menyenangkan atau hukuman
  2. Ekstinction, pemindahan stimulus yang menguatkan kontrol
            Liebert, Poulus, dan Marmour (1979) menyatakan bahwa dalam hal ini setiap kali respon muncul dalam rangkaian reinforcer. Rangkaian dan perkiraan keberhasilan adalah prosedur yang efektif dari reinforcement untuk membentuk tingkah laku yang di inginkan. Dengan mengacu pada punishment, waktu pemberiannya, dan intensitasnya merupakan variabel utama untuk membentuk perilaku. Skinner (1952, dalam Calhoun dan Acocella, 1990) menyatakan bahwa hidup kita berisi jaringan yang amat luas dari reward dan punishment, yang memaksakan kita untuk meniadakan, mengendalikan, dan menyalurkan keinginan kita.
3. Observational Learning (Modeling)
            Obervational learning (modeling) merupakan fungsi dari melihat tingkah laku orang lain. Hal yang memungkinkan individu meniru baik secara langsung maupun tidak langsung. Observational learning terjadi dalam tiga tahap, yaitu penyingkapan, penerimaan, dan perolehan. Maka harus diperhatikan karakteristik dari stimulus, pengamat dan model, termasuk vicarious consequences, yaitu konsekuensi yang terjadi pada model sebagai hasil dari tindakannya. Calhoun dan Acolella (1990) menyatakan bahwa melalui metode belajar dengan model, seseorang dapat belajar mengontrol diri seperti apa yang diamatinya pada model. Tingkah laku melalui proses modeling dapat terjadi meskipun tanpa pemberian reinforcement langsung (Bandura, 1971; dalam Calhoun dan Acocela, 1990). Seperti hanya dengan kekuatan pengaruh sosial-keinginan untuk menjadi seperti orang lain, khususnya orang yang terlihat lebih berkekuatan dan menarik, cukup membuat kita meniru apa yang kita lihat (Calhoun dan Acocella, 1990). Jika seseorang menampilkan tingkah laku yang bertentangan dengan model, maka akan timbul perasaan bersalah (liebert, Poulus, dan Marmour,1979). Penelitian laboraturium dengan anak-anak memperlihatkan bahwa modeling sangat efektif dalam pemindahan dua kemampuan sulit yang penting untuk membentuk self control, yaitu penundaan kepuasan dan membuat self reward atas pemampilan yang memuaskan (Bandura dan Mischel,1965, dalam Calhoun dan Acocella,1990)
            Menurut Calhoun dan Acocella (1990) selain dari ketiga proses belajar dasar tersebut, ada hal lain yang perlu diperhaikan, yaitu:
  1. Avoidance learning
      Dalam self control, seseorang belajar untuk menghindari kepuasan yang bersifat segera untuk mendapat tujuan jangka panjang yang lebih memuaskan. Antara lain meliputi dua proses yaitu :
    1. Mendapat teguran atau hukuman atas suatu tampilan tingkah laku, maka melalui respondent conditioning, kecemasan dihubungkan dengan keinginan untuk tetap menampilkan tingkah laku.
    2. Berusaha menekan dorongan tingkah laku serupa untuk menghindari perasaan tidak menyenangkan yang menyertai tingkah laku tersebut. Proses ini terjadi melalui operant conditioning.
      Avoidance learning memperkenankan individu untuk menghindari situasi yang tidak menyenangkan sebelum situasi itu terjadi.
  1. Generalization dan discrimination
                  Kemampuan untuk menghubungkan antara hal yang satu dengan hal yang lain secara berulang akan membuat suatu generalisasi. Sedangkan diskriminasi merupakan kebalikan dari generalisasi, yaitu proses belajar melalui pengalaman yang berbeda, sehingga dapat membedakan antara satu stimulus dengan stimulus lainnya.
                  Diskriminasi penting dalam mempelajari self control karena membuat individu menyalurkan kebutuhan dan keinginan pada jalan keluar yang tepat, sehingga dapat memuaskan diri tanpa terlibat dalam pelanggaran atau tingkah laku yang berbahaya.
2.1.3. Hasil dari Perkembangan Self Control
            Calhoun dan Acocella (1990) menyatakan pada dasarnya melalui proses belajar seseorang dapat mengetahui bagaimana mengontrol dirinya.
1. Bodily control (Kontrol tubuh)
            Self control bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir, melainkan didapat melalui proses pembelajaran. Ketika seseorang mulai mempelajari pengendalian diri, maka akan diawali dengan mengontrol tubuhnya sendiri, seperti mengontrol gerakan badan, mengontrol koordinasi tangan serta kaki. Kemampuan mengontrol diri pada masa awal kehidupan, membentuk pengalaman awal dari self control dan reward yang diberikan membentuk motivasi untuk meningkatkan self control. Seiring dengan semakin berkembangnya pertumbuhan manusia, maka akan semakin banyak proses kontrol yang dipelajari.
            Berdasarkan uraian diatas bodily control (kontrol tubuh) dapat diartikan sebagai kemampuan individu dalam mengendalikan perilaku fisik.
2.Control over impulsive behaviour (Kontrol tingkah laku impulsif)
            Tingkah laku impulsif merupakan tingkah laku yang harus segera dilakukan untuk mendapatkan pemenuhan dengan segera. Untuk mengontrol tingkah laku impulsif diperlukan dua kemampuan, diantaranya :
§  Kemampuan untuk menunggu terlebih dahulu sebelum bertindak
§  Kemampuan mengabaikan pemenuhan kebutuhan segera untuk mencapai reward yang lebih besar di masa yang akan datang
  1. Berdasarkan uraian diatas Control over impulsive behaviour (Kontrol tingkah laku impulsif) dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk mengendalikan pemuasan kebutuhan segera untuk mencapai hasil yang lebih baik di masa yang akan datang.
3. Reactions to the self (Reaksi pada diri)
Selain reinforcement yang dapat mengontrol diri, hal yang lebih penting adalah reaksi diri. Seseorang akan selalu melakukan evaluasi terhadap tampilan tingkah lakunya. Reactions to the self (Reaksi pada diri) dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk mengevaluasi atas tampilan tingkah lakunya.
2.1 4. Peran Self Control
            Self control memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia, terdapat dua alasan mengapa self control penting (Calhoun dan Acocclla, 1990), yaitu :
a.   Faktor sosial
            Karena manusia hidup berkelompok dalam suatu masyarakat, maka setiap orang harus dapat mengontrol tingkah laku yang bertentangan dengan norma masyarakat. Setiap manusia menpunyai dorongan-dorongan dalam diri yang menuntut pemuasan, misalnya saja dorongan-dorongan seksual dan agresif. Oleh karena harus memuaskan kebutuhan dari dorongan-dorongan tersebut, maka manusia tersebut harus dapat mengontrol dorongan yang dimilikinya agar tidak muncul menjadi tampilan tingkah laku yang tidak dapat diterima oleh masyarakat disekelilingnya, sehingga tidak mengganggu kenyamanan dan keamanan orang lain.
b.   Faktor personal
            Setiap manusia memperoleh pencapaian tujuannya melalui keiginan. Dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan self control. Seseorang akan membuat standar-standar untuk mencapai tujuan, dan ketika pencapaiannya diperlukan proses belajar mengontrol dorongan untuk memuaskan kebutuhan dengan segera demi tercapainya tujuan jangka panjang yang diharapkan.
2.1.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi Self Control
            Sebagaimana faktor psikologis lainnya, self control dipengaruhi oleh beberapa faktor. Secara garis besar faktor-faktor yang memepengaruhi self control ini terdiri dari faktor internal (dari diri individu), dan faktor eksternal (lingkungan individu).
a. Faktor internal
            Faktor internal yang ikut andil terhadap kontrol diri adalah usia. Semakin bertambah usia seseorang maka, semakin baik kemampuan mengontrol diri seseorang itu.
b. Faktor eksternal.
            Faktor eksternal ini diantaranya adalah lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga terutama orangtua menentukan bagaimana kemampuan mengontrol diri seseorang.
2.1.6. Problem dalam Self Control
 Jika self control  berkembang dengan baik, kemudian bodily control, impulse control, dan self reaction pada individu telah membawanya secara konsisten tetap bahagia, bebas dari rasa bersalah, dan hidup konstruktif, didukung dengan  keinginan diri sendiri dan lingkungan sosialnya. Dalam kehidupan sebenarnya, bagaimanapun, self control pada individu tetap saja memiliki kekurangan, tidak semua individu mampu melakukan pengendalian diri secara konsisten.
Kemampuan pengendalian  diri kita bervariasi. Ada orang yang sering terlalu banyak minum (hingga mabuk), yang lain terlalu banyak makan, yang lain lagi mudah kehilangan kontrol emosi, cenderung menunda pekerjaan, bermain game terlalu lama dan sebagainya. Bagaimana hal ini dapat terjadi?
Seperti halnya kontrol diri yang kuat, kontrol diri yang lemah juga berkembang melalui proses belajar. Contohnya, seorang remaja yang tetap impulsif, yakni selalu marah bila keinginannya tak terpenuhi, kemungkinan menjadi demikian karena sejak kecil orangtuanya selalu menuruti segala permintaan (berfungsi sebagai ganjaran) setiap kali anaknya itu merengek meminta sesuatu, terlebih-lebih bila anaknya mulai marah. Ketika pola ganjaran semacam ini terjadi berulang-ulang, berarti anak mengalami proses pembelajaran bahwa permintaannya pasti terpenuhi bila disertai marah. Selanjutnya ia mengembangkan pola perilaku marah setiap kali permintaannya belum terpenuhi.
Seseorang yang memiliki kebiasaan menunda pekerjaan, mungkin menjadi demikian karena sejak kecil terbiasa bekerja dalam tekanan orangtua (berfungsi sebagai hukuman). Dalam situasi demikian ia termotivasi melakukan tugas hanya untuk menghindari hukuman. Akibatnya, dalam situasi tanpa adanya tekanan, ia cenderung bermalas-malasan.
Hal yang sama mungkin terjadi pada pemain online game, ketika bermain kemungkinan individu akan memperoleh kesenangan ketika mendapatkan level karakter yang dimainkannya meningkat dan mendapatkan sejumlah poin. Semakin tinggi level karakternya dan semakin banyak poin yang diperolehnya maka akan dianggap sebagai orang yang hebat atau jago (berfungsi sebagai ganjaran). Ketika pola ganjaran semacam ini terjadi berulang-ulang, berarti individu mengalami proses pembelajaran bahwa ia akan sangat dihargai dan dianggap sebagai orang yang hebat ketika ia medapatkan level karakter yang dimainkannya semakin tinggi dan mendapatkan banyak poin. Selanjutnya ia mengembangkan pola prilaku bermain dan kemungkinan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain. Hal inilah yang memungkinkan individu akan menjadi addict karena sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bermain online game.