UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

Bermula dari hobi, barang bekas dan modal minim.

Bisnis buku harian
Bisnis buku harian (Galery Bukuunik)
Pemilik usaha Bukuunik, Selvia, melirik buku harian (diary) yang didesainnya sendiri sebagai peluang usaha. Dari jemarinya yang lihai itu, dihasilkannya scrap book yang unik dan bisa menghasilkan keuntungan puluhan juta per bulan.

"Sebenarnya, konsep Bukuunik ini adalah scrap book yang bisa digunakan untuk diary," kata Selvia kepada VIVAnews.

Selvia mengatakan bisnisnya ini mampu meraih omzet sekitar Rp50-100 juta per bulan. Itu pun bisa meningkat di waktu-waktu tertentu, misalnya saat hari Valentine dan Natal.

Target penjualannya adalah kaum hawa, baik yang masih duduk di bangku sekolah, hingga pekerja kantoran, bahkan ibu rumah tangga sekali pun. "Anak-anak kan, suka yang lucu-lucu. Lalu, para ibu juga masih sering menulis buku harian," ujarnya.

Buku-buku yang dibuatnya memiliki tema yang disenangi para remaja, seperti persahabatan, cinta, dan Natal.

Buah tangan wanita berambut panjang ini, dibanderol dengan harga Rp50 ribu-Rp80 ribu. Tidak hanya itu, pemilik usaha ini juga menyediakan alat-alat dan bahan-bahan bagi si kreatif yang berminat untuk menghias bukunya sendiri.

"Kami juga menyediakan bahan dan alat untuk menghias scrap book, seperti lem, bunga, ring, dan kertas. Harganya mulai dari Rp4 ribu-Rp20 ribu," kata Selvia.

Produk-produknya kini, dijual di dua outlet, yaitu di Mall Taman Anggrek dan Living World, Tangerang. Selain itu, ada juga di beberapa reseller di sejumlah tempat, yaitu di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogja, Banjarmasin, dan Surabaya.

Toko Bukuunik yang terletak di Ruko Golden 8 Blok I-12, Gading Serpong, Tangerang, juga membuka toko online di situs www.bukuunik.com.

Berawal dari hobi

Wanita yang kerap dipanggil Via ini mengaku sebelumnya tak berpikir akan serius menggeluti bisnis ini. Pada 2008 lalu, ia mengisi waktu luangnya dengan membuat diary sendiri dengan modal Rp500 ribu.

"Awalnya, sih, masih Rp500 ribu untuk membeli peralatan dan bahan, seperti gunting, ring, kertas, dan lem," kata dia.

Dia lalu membuat desain sampul. Setelah dirancang, barulah dikreasikan sedemikian rupa. Misalnya, ada cover yang berupa printing dan berbentuk tempelan berbagai barang, misalnya bunga dan kancing. Setelah itu, baru disatukan dengan kertas polos untuk isi buku. Lama pengerjaan makan waktu sekitar 3-4 hari.

Lalu, dia membuat sepuluh scrap book dan mengunggahnya ke situs media sosial seperti Kaskus dan Facebook. Responnya bagus, dan mulai dari situlah, bisnis ini berkembang. "Lama-lama permintaannya bertambah. Desainnya juga bertambah," ujarnya.

Sampai saat ini, wanita ini masih mengerjakan pembuatan buku harian dengan tangannya sendiri meskipun ada sekitar dua belas karyawannya yang membantunya. "Dari dulu, saya yang membuatnya, bahkan sampai sekarang," kata dia.

Barang bekas

Pia mengaku sebagian besar bahan dasar pembuatan buku diary ini berasal dari produk lokal, misalnya kertas, kancing, bunga, dan daun. Tapi, untuk cincin besi, dirinya membeli produk China dari supplier-nya. Meskipun demikian, dia masih menggunakan barang bekas sebagai hiasan sampul bukunya.

"Saya juga menggunakan kalender dan majalah bekas untuk hiasan," tuturnya.

Berminat jadikan hobi sebagai penghasilan? Yuk, ikuti jejak Via. (umi)

0 komentar:

Posting Komentar