UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

Model Pembelajaran Berdasarkan Minat


Model pembelajaran berdasarkan minat adalah model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk memilih atau melakukan kegiatan sendiri sesuai dengan minatnya. Pembelajaran berdasarkan minat dirancang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan spesifik anak. Model pembelajaran berdasarkan minat adalah model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk memilih atau melakukan kegiatan sendiri sesuai dengan minatnya. Pembelajaran berdasarkan minat dirancang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan spesifik anak.

Prinsipnya, dalam model pembelajaran berdasarkan minat mengutamakan:
(1) pengalaman belajar bagi setiap anak secara individual
(2) membantu anak untuk membuat pilihan-pilihan melalui kegiatan dan pusatpusat kegiatan
(3) melibatkan peran serta keluarga. Pelaksanaan pembelajaran berdasarkan
minat dapat menggunakan beberapa area antara lain: area agama, balok,

bahasa, drama, berhitung/matematika, sains, seni/motorik, musik, membaca
dan menulis. Dalam satu hari dapat dibuka satu area bermain dengan 4-5
kegiatan bermain.
Tahap atau langkah pembelajaran berdasarkan minat:
1. Guru memberikan penjelasan kegiatan-kegiatan di dalam area yang diprogramkan
beserta jumlah anak yang boleh bermain di area tersebut, misalnya alam terdiri dari
kegiatan bermain pasir, bermain air berwarna, bermain mengocok air sabun,
bermain bercocok tanam. Guru menyiapkan entri tiket sebanyak jumlah anak
sesuai daya tampung sentra, misalnya area alam ini hanya menampung 6 anak,
maka guru hanya menyiapkan 6 tiket sebagai tanda masuk. Anak yang sudah
menyelesaikan kegiatan di are alam dapat berpindah area dengan mengembalikan
tiket di pintu masuk area agar dapat digunakan anak selanjutnya.
2. Guru membagi jumlah anak di setiap kegiatan bermain. Pembagian bertujuan agar
seluruh anak mengalami pengalaman main yang direncanakan hari itu.
3. Guru memberikan kesempatan anak untuk bebas memilih kegiatan sesuai dengan
minatnya. Pilihan yang diberikan tidak jauh dari area yang telah disiapkan agar
pembelajaran lebih terarah.
4. Anak dapat berpindah kegiatan sesuai dengan minatnya jika ada tempat kosong di
kegiatan tersebut.
5. Guru mencatat setiap kegiatan yang dilakukan peserta didik sebagai proses
pemantauan tumbuh kembang anak.
6. Apabila ada peserta didik yang tidak mau melakukan kegiatan di semua kegiatan
yang diprogramkan, maka guru dapat memotivasi anak agar mau mencoba bermain
bersama temannya.
7. Guru melakukan evaluasi pembelajaran bersama peserta didik.
8. Guru memberikan pengakuan dan penguatan terhadap usaha yang teah dilakukan
anak.

PENDEKATAN PEMBELAJARAN DI TK
Beberapa pendekatan dalam pembelajaran anak Taman Kanak-kanak antara
lain: Pendekatan Montessori, Pendekatan Bank Street, pendidikan High/Scope,
Pendekatan Kurikulum Kreatif, Pendekatan Regio Emilia, Pendekatan Project Based,
dan Pendekatan BCCT. Pada kesempatan kali ini, akan dijelaskan salah satu
Pendekatan yang sesuai dengan minat anak, yaitu pendekatan BCCT.

a) Pendekatan BCCT
Dikembangkan oleh CCCRT (Creative Center for Childhood Research and
Training) Florida, USA. Dilaksanakan di Creative Preschool asuhan Pamela. Pada
perkembangannya di Indonesia bernama BCCT (Beyond Center and Cyrcle Time)
yang kemudian akan diganti dengan nama SELING (Sentra & Lingkaran).
a. Konsep Pendekatan BCCT Melalui 3 jenis main, antara lain:
1) Main Sensorimotor
  • Anak belajar melalui panca indera dan hubungan fisik dengan lingkungan
  • Dengan menyediakan kesempatan untuk berhubungan dengan bermacam-macam bahan dan alat permainan di dalam dan di luar ruangan.
2) Main Peran, atau simbolik, main pura-pura, fantasi, imajinasi atau main drama
Untuk perkembangan kognisi, sosial dan emosi anak. Main Peran dibagi atas 2
jenis :
  •  Main Peran Makro, Anak berperan sesungguhnya dan menjadi seseorang atau sesuatu
  •  Main Peran Mikro, Anak memegang atau menggerak-gerakkan benda-benda berukuran kecil untuk menyusun adegan
3) Main Pembangunan
  •  Main pembangunan bahan sifat cair/bahan alat  
Bermain dengan menggunakan bahan bahan cair seperti air, krayon, spidolcat dengan kuas, pensil, pulpen, playdough, ublegh, pasir, lumpur, biji-bijian
seperti beras, kacang kedelai, kacang hijau dll.
  •  Main Pembangunan Terstruktur
Bermain dengan mempergunakan balok unit,balok berongga, balok
berwarna, lego, puzzle dan lain lain.

b) Pendekatan Proyek
Pendekatan Proyek dikembangkan pertama kali oleh Lilian Katz. Kegaiatan
pembelajaran melalui pendekatan proyek melibatkan proses kesatuan hati (heart) dan
pikiran (minds) diantara anggota kelompok. Dengan demikian, hasil pengamatan yang
bervariasi dapat disatukan dalam proses penyelidikan yang akhirnya menghasilkan
suatu karya yang berarti.
Prinsip Pendekatan Proyek antara lain:
a. Pengetahuan (knowledge)
Fakta-fakta, informasi, cerita, konsep, dan banyak unsur dari pikiran
b. Ketrampilan (skills)
Ketrampilan berbeda dengan pengetahuan. Pengetahuan harus dapat menjadi
suatu ketrampilan

c. Disposisi (disposition)
Kebiasaan berpikir yang digabungan dengan hati
Kemampuan prososial, motivasi, peduli, dan empati kepada anak lain
Berkembang dengan baik melalui mengamati (observing) dan meniru
(modelling)
– Bawaan dari lahir untuk memaknai pengalaman, bertanya, mencari
jawaban, dll
– Tidak bisa diajarkan melalui instruksi
– harus diwujudkan dalam tingkah laku, diekspresikan dan digunakan
– disposisi yang hilang, tidak akan bisa kembali lagi

d. Perasaan (feelings)
– Dipelajari melalui pengalaman
– Tidak dapat dipelajari melalui instruksi, paksaan, atau doktrinasi
– Memberi kesempatan untuk terlibat aktif, menentukan pilihan, dan
mengambil keputusan
Pelaksanaan pendekatan Proyek disesuaikan dengan tujuan akademik
dimana guru mengajarkan pengetahuan, konsep, informasi dan ketrampilan dan
sesuai dengan tujuan intelektual yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan
anak dalam mengeksperikan ide serta pemikirannya mencakup kegiatan menganalisa,
mensintesa, menghipotesa, hubungan sebab akibat, meramalkan serta
menginvestigasi.

Daftar Pustaka
Essa, Eva L. 2003. Introduction to Early Childhood Education. Canada: Thomson
Learning, Inc
----. (2007). Kerangka Dasar Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta :
Puskur.
----. (2006). Pedoman Penerapan Pendekatan “Beyond Centers and Circle Time”
(BCCT) Dalam Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Direktorat PAUD,
Ditjen Pendidikan Luar Sekolah, Depdiknas
Sujiono, Yuliani Nurani. 2009. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta:
Indeks

0 komentar:

Poskan Komentar